Filosofi Keong Buntet, Mengapa Bisa Jadi Benda Gaib

Sebagian dari Anda, mungkin sudah pernah mendengar tentang benda betuah yang disebut Keong Buntet, atau Kol Buntet. Sebagian lagi mungkin akan bertanya-tanya, mengapa rumah siput yang buntu ini disebut sebagai benda pusaka.

Dari sananya, leluhur orang Jawa memang selalu menurunkan petuah secara tersirat. Jadi lewat wujudnya yang buntu itupun, sesungguhnya Keong Buntet memiliki nasehat.

Kata keong dan kol maknanya sama. Yaitu merujuk pada hewan lunak sebangsa siput yang bercangkang.  Sedangkan kata ‘buntet’ artinya buntu atau tertutup.

Adapun yang dimaksud keong buntet adalah sebuah sarana spiritual, berupa cangkang atau rumah keong yang telah membatu. Sehingga cangkang tersebut buntu tertutup fosil.

Sepintas lalu, wujud kol buntet ini memang tidak istimewa. Malah mirip gelintiran batu saja. Tetapi pamornya di kalangan para pencinta benda bertuah terbilang tinggi.

Lalu, khasiat keong buntet ini untuk apa?

Khasiat keong buntet adalah sebagai pembuntu atau penutup semua masalah. Buntunya cangkang kol buntet mewakili selesainya masalah hidup yang dialami. Termasuk masalah keuangan, karir, rumah tangga, jabatan dan keselamatan.

Kol buntet umumnya dicari oleh mereka yang merasa hidupnya kurang tenteram dan sering diliputi persoalan. Bisnis selalu merugi, rumah tangga kerap ribut dan entah mengapa selalu ada orang yang tidak menyukai. Sering juga kul buntet dijadikan pegangan oleh mereka yang kerap bepergian, dengan harapan agar mendapatkan keselamatan selama dalam perjalanan.

Ada alasan mengapa keong buntet kemudian memiliki tuah tersendiri. Semasa hidupnya, cangkang ini diisi oleh keong yang bernyawa. Dan ketika sang keong mati, cangkangnya membatu, energi kehidupan sang keong tetap tertinggal disana, meskipun wujudnya sudah mati dan tidak lagi ada.

Sudah begitu, paling tidak ada tiga hal yang diajarkan oleh sang keong kepada kita. Pertama adalah kesabaran dan kesungguhan. Meski dengan geraknya yang sangat lambat, keong tidak pernah menyerah. Ia tetap menemukan jalan selama ada kemauan.

Kedua adalah kemauan untuk memaafkan serta kesanggupan menghadapi cobaan. Namanya orang hidup, cobaan itu pasti ada. Sebaik-baiknya kita, suatu saat entah mengapa tetap ada saja orang yang terkadang kurang suka.

Keong atau siput, ketika diusik, tidak pernah membalas, ia menarik diri. Kemudian begitu bahaya dirasa telah lewat, ia melanjutkan perjalanan hidupnya kembali.

Ketiga, keong mengajarkan pentingnya jati diri. Tidak peduli ada dimana, rumahnya selalu dibawa. Sifatnya ini mengajarkan bahwa orang harus selalu ingat siapa dirinya, dan dari mana ia berasal. Tidak peduli dimanapun saat ini dia berada.

Sebab ketika jati diri telah hilang, kesombongan lah yang akan datang. Maknanya, nenek moyang kita secara tidak langsung telah mengajarkan setidaknya tiga hal sebagai bekal hidup kita, lewat peranan keong buntet sebagai sebuah benda bertuah. Dan kita sebagai generasi yang berjuang di masa sekarang, memiliki kewajiban untuk melestarikan apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang tersebut.


Ada Pertanyaan? Jangan Ragu Untuk Konsultasi : Klik Via Whatsapp