Hati-Hati Bila Ingin Mengosongkan Keris Berkhodam

Kali ini, sekali lagi kita akan membahas seputar keris. Tepatnya, keris bertuah. Atau lebih tepatnya lagi, keris yang berkhodam.

Saya harapkan Anda tidak bosan-bosan dengan bahasan semacam ini, meskipun mungkin Anda saat ini tidak punya, dan tidak berminat untuk memiliki keris pusaka. Sebab bagi mereka yang memiliki keris pusaka berkhodam, wawasan semacam ini penting untuk dimiliki.

Langsung saja, kali ini yang ingin saya bagikan, adalah bahwasannya kita perlu berhati-hati, ketika berniat mengosongkan suatu keris berkhodam.

Sebagai contoh kasus, katakanlah ada seseorang yang memiliki keris berkhodam, warisan dari orang tuanya. Yang diwariskan secara turun temurun dalam keluarga. Tetapi karena orang ini sudah berkeluarga dan punya beberapa orang anak yang masih kecil, maka ia bermaksud untuk mengosongkan keris tersebut.

Mengosongkan, dalam hal ini, maksudnya adalah melepaskan khodam dari pusaka tersebut. Agar kerisnya tidak lagi berkhodam. Sebab ia khawatir bahwa keberadaan khodam di dalam rumahnya, akan mengkhawatirkan bagi keluarga, dan anak-anaknya yang masih kecil.

Maka dengan bantuan seorang ahli metafisik, ia pun membawa keris ini untuk dikosongkan. Setelah kosong, maka dibawa pulang kembali. Lalu disimpan sebagai wasiat semata, karena bagaimanapun ini adalah peninggalan keluarga.

Apakah tindakannya ini salah? Tentu saja tidak.

Akan tetapi, yang kemudian menjadikan masalah adalah, keris tersebut dikosongkan, tanpa dipagari setelahnya. Sehingga dalam keadaan khodamnya sudah lepas, tetapi makhluk halus dengan leluasa masuk menggantikan.

Ibarat rumah kosong yang tidak terkunci. Atau ibarat mengosongkan kandang ayam. Kalau tidak ditutup pintunya, yang kandang ini akan didatangi dan dihuni oleh ayam lain, yang tidak jelas dari mana, dan milik siapa.

Akibatnya, si pemilik keris ini, yang tadinya berniat agar keluarganya tidak terganggu dengan keberadaan khodam, malah menjadikan kerisnya dihuni oleh sebangsa genderuwo yang berenergi negatif. Anak-anaknya yang masih kecil tadi jadi sering sakit-sakitan, dan selalu rewel di malam hari.

Jika sudah terlanjur seperti ini, maka kita perlu membersihkan kembali isi keris tersebut, baru kemudian memagarinya. Agar tidak dihuni oleh makhluk-makhluk lain lagi.

Dari contoh kasus ini, kita bisa belajar. Bahwa setiap keris pusaka yang berkhodam, memang terkadang butuh perlakuan khusus. Terutama bila keris ini Anda terima sebagai warisan, dan bukan merupakan keris yang secara khusus ditempa untuk kebutuhan pribadi Anda.

Saya sampaikan cerita ini sebagai wawasan saja, semoga bisa menjadikan sedikit pertimbangan bagi Anda yang dirumah punya keris pusaka.


Ada Pertanyaan? Jangan Ragu Untuk Konsultasi : Klik Via Whatsapp