Meluruskan Anggapan “Syirik” Bagi Pemilik Benda Pusaka

Kali ini, saya bermaksud untuk secara khusus membahas tentang suatu anggapan, sekaligus pertanyaan, yang sampai sekarang masih sering saya dengar. Kaitannya dengan mereka yang menggunakan atau memiliki benda pusaka. Atau kata lainnya, benda bertuah.

Ada banyak orang yang menyangsikan perilaku semacam ini. Ada pernyataan yang mengatakan bahwa menyimpan atau memiliki benda pusaka itu syirik. Nah, inilah yang akan kita bahas.

Tetapi sebelum itu, dari depan saya tekankan dulu. Harap digaris bawahi dulu, bahwa saya bukan ahli agama. Dengan demikian, saya hanya dapat menjawab pertanyaan ini, dari sudut pandang seorang konsultan yang beragama.

Sejak jaman dulu, benda bertuah sudah menjadi sesuatu yang diburu. Entah karena tuahnya, atau karena wujud fisik maupun kelangkaannya yang digemari. Latar belakang orang yang menggemari benda bertuah pun, macam-macam. Dari kalangan bawah sampai kalangan atas, ada semua.

Ada juga banyak orang tidak lantas sengaja menjadi penggemar, tetapi kebetulan dititipi, atau mewarisi benda pusaka dari leluhur. Dari mendiang orang tua, misalnya.

Sebenarnya, pada awalnya, mengapa orang memiliki benda bertuah? Kalau dalam pandangan masyarakat Jawa, sifatnya adalah sebagai pegangan. Untuk menambah kepercayaan diri, atau istilahnya sifat kandel. Itulah mengapa benda pusaka banyak dicari, diminati, dan seringkali dirawat dengan sangat baik oleh pemiliknya.

Apalagi bila kita kaitkan dengan katuranggan, seperti yang dulu sekali sudah pernah saya terangkan di salah satu video saya, maka seseorang itu akan mapan bila sudah memiliki lima perkara. Wisma, alias rumah. Garwa, alias istri. Curiga, alias keris, yang mana dalam hal ini yang dimaksud curiga, adalah benda pusaka bertuah secara umum, yang bersifat sebagai piyandel.

Kemudian turangga, atau tunggangan, karena turangga artinya kuda. Dan terakhir adalah kukila, alias burung. Dalam konteksnya di jaman sekarang, kukila ini lebih mengarah pada hobi.

Maka dari sini akan terlihat, bahwa dari jaman dulu pun orang sudah menganggap, bahwa baru akan lengkap, bila seorang pria yang sempurna itu, memiliki pegangan juga. Dalam bentuk curiga, pusaka.

Meskipun tentu saja, patut ditegaskan pula, bahwasannya bila kita terjemahkan dalam konteks jaman sekarang, maka yang semestinya dianggap sebagai curiga, bukan lagi keris. Tapi keterampilan. Pekerjaan. Kemampuan untuk mencari penghidupan.

Kembali pada hukum menggunakan benda pusaka, maka sebenarnya syirik tidak syirik, akan sangat tergantung pada niat orang yang bersangkutan. Kalau Anda menganggapnya sebagai pegangan, maka saya katakan sah-sah saja. Tetapi kalau Anda mendewakan benda ini, ya salah.

Punya keris tidak punya keris, kita tetap berdoa dan memohon kepada Tuhan. Bukan pada kerisnya. Keris hanyalah pegangan, dan semestinya kita perlakukan sebagai pegangan.

Di banyak kasus, setelah seseorang memiliki atau menyimpan benda pusaka tertentu, kedudukannya naik. Karirnya mapan. Kekayaannya melimpah. Sampai-sampai ia lupa bahwa semua itu adalah karunia Tuhan. Bahwa apa-apa yang dimilikinya hanyalah bersifat sementara.
Kasus seperti inilah, yang tidak semestinya.

Sebagai tambahan saja, ada satu pandangan yang menyatakan bahwa manusia memiliki tiga unsur keterkaitan dengan dunia.

Yang pertama adalah daya dinaya, artinya satu sama lain saling memberikan daya.

Yang kedua, rot sinorotan, artinya satu sama lain saling memberikan pancaran. Dan yang ketiga, adalah lik winalikan, artinya satu sama lain saling berkebalikan.

Itulah mengapa, kita sebagai manusia memiliki kecenderungan untuk menutupi segala kekurangan yang ada dalam diri kita, dengan memberikan sesuatu. Ada kalanya, peranan benda pusaka seperti itu. Yaitu untuk menyelaraskan hidup.

Agar antara sang manusia dan pusakanya, bisa saling memberikan daya, saling memberikan pancaran, agar kehidupannya menjadi lebih baik dari semula. Alias lik winalikan. Berkebalikan dari yang dulu.

Maka dari itu, intinya, adalah agar kita sebagai manusia, jangan sampai lupa bahwa pusaka apapun yang saat ini kita punya, tuahnya adalah berasal dari Tuhan. Itu hal paling utama yang perlu kita pegang.

Di sisi lain, saya pun yakin benar, bahwa Anda yang menyaksikan video ini pastilah pribadi yang bijak. Bijak dalam menyerap informasi, bijak dalam menyimpulkan, dan bijak dalam mengambil keputusan.

Sehingga harapan saya, apa yang baru saja saya sampaikan, sedikit banyak dapat meluruskan tentang bagaimana hukumnya menggunakan benda pusaka.


Ada Pertanyaan? Jangan Ragu Untuk Konsultasi : Klik Via Whatsapp